Tak terlukiskan kebahagiaan Mazaya saat pertama kali ia tahu ada kehidupan di dalam rahimnya. Nathan, hadir menebar benih kebahagiaan di kehidupan Mazaya dan Haykel yang sempat senyap selama empat tahun lamanya. Proses melahirkan yang harus melalui prosedur vacuum dan rasa sakit tak terperihkan terbayar sudah saat tangis kecilnya memecah keheningan malam.
Nathan adalah bayi yang sangat menyenangkan. Tidak pernah rewel bahkan ia seolah mengerti kelelahan Mazaya dalam mengasuhnya sehingga tangisnya hampir tak pernah terdengar dimalam hari. Mazaya mengganggap Nathan adalah malaikat kecil persembahan Tuhan untuk lebih memaknai hidupnya. Namun ketika bulan merambat hingga menjelang satu tahun usianya. Mazaya baru merasakan ada hal yang tak normal pada diri Nathan. Ia tak bisa focus dan hampir tak ada kontak mata, tak bisa tersenyum bahkan untuk permainan simple seperti "cilukba", tak ada ekspresi hidup diwajah mungilnya. Dan yang membuat hati ibu muda itu bagai direngut dari tempatnya adalah ketika pada suatu hari Nathan membentur-benturkan kepalanya ke dinding hingga memar-memar dibagian keningnya.
Apa yang terlintas dibenak Mazaya saat itu adalah sebuah kengerian dan ketidak yakinan pada sebuah kata "Autisme". Tanpa berpikir panjang ia langsung menghubungi Linda sahabatnya yang kebetulan juga memiliki anak dengan "berkah" Autisme, untuk mencari referensi mengenai dokter terbaik yang dapat memberikan pertolongan bagi Nathan kecilnya.
"Dari pemeriksaan yang saya lakukan, memang terdapat gejala Autisme Infantil pada Nathan" Ujar dokter Farras yang membuat Mazaya seolah disengat listrik ribuan kilowatt.
"Sejak lahir ia baik-baik saja Dok, memang sering diare dan agak lambat berbicara tapi kenapa tiba-tiba harus terkena Autis ? Bisakah disembuhkan ?" Tanyanya cemas dengan air mata bersimbah jatuh.
"Tenang Bu" Ujar Dokter Farras menenangkan "Sekarang ini telah banyak penderita Autis yang bisa disembuhkan dan dapat tumbuh layaknya anak yang terlahir normal. Tapi tentunya dengan perawatan medis serta nonmedis yang menyeluruh" Ujarnya
"Lalu apa yang harus saya lakukan sekarang Dok" Tanya Mazaya sambil mendekap tubuh Nathan.
"Hal pertama adalah lakukan diet GFCF."
"Diet GFCF ? Jenis-jenis makanan apa saja Dok ?"
"Maksudnya adalah Gluten Free and Casein Free. Nathan sama sekali dilarang menyantap makanan yang mengandung terigu, gandum dan susu sapi. Mulai sekarang gantilah menu hariannya dan konsumsi susu yang tidak mengandung jenis makanan itu. Nanti akan saya berikan resep sederhana untuk panduan Ibu dalam memberi makanan pada Nathan. Tapi di pasaran juga sudah banyak diterbitkan buku-buku masakan untuk anak Autis, cobalah cari ditoko-toko buku. Tidak usah cemas Bu. Usia Nathan masih terbilang muda saat terdeteksi. Ada pasien saya yang sudah berusia empat tahun ketika orang tuanya sadar anaknya menderita Autis dan bisa disembuhkan meskipun masih terus menjalani terapi lanjutan sampai saat ini. Yang terpenting dalam hal ini adalah dukungan, kasih sayang serta perhatian tulus dari Ibu selaku orang tua Nathan".
Dokter Farras menepuk-nepuk bahu Mazaya seolah hendak memberi kekuatan pada Ibu muda itu. Tak ada satu orang tuapun yang menghendaki anaknya terlahir dengan kondisi tersebut. Tapi apapun kenyataannya, mata batin Mazaya sudah bisa melihat gambaran kehidupan seperti apa yang akan dilaluinya bersama Nathan.
Haykel termenung sedih mendengar penuturan Mazaya. Ia tak habis pikir bagaimana bisa penyakit menakutkan itu menghinggapi buah hatinya. Padahal ia sendiri terlahir dari keturunan yang kesemuanya sehat dan tidak ada yang beriwayat hiperaktip apalagi Autis.
"Mungkin diagnosa Dokter Farras salah, coba bawa Nathan ke dokter anak yang lain" ujarnya tak yakin.
"Dokter Farras menggunakan DSM-IV atau ICD-10 saat menarik kesimpulan mengenai penyakit itu, menurutnya itu adalah standar internasional untuk mendeteksi Autisme. Setelah diwawancara, Ia juga menyuruhku mengisi form kuesioner berkenaan dengan kondisi Nathan. Dan tiga hari lagi Nathan diminta untuk melakukan pemeriksaan fisik seperti darah, urine dan lainnya. Boleh juga sich, minta pendapat dokter lain tapi bukannya itu malah buang waktu. Lebih baik kita ikuti saja saran Dokter Farras untuk menjalani terapi dan pengobatan medis buat Nathan" Ujarnya serius seraya menyelimuti tubuh Nathan "Kebetulan Dokter Farras itu juga yang menangani anaknya Linda, jadi pengalamannya untuk pasien Autis sudah tidak diragukan lagi."
Haykel menghela nafas dalam "Jadi kamu terima saja anak kita di vonis Autis ?" ujarnya meninggi. "Lalu mau bagaimana lagi ? Hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah segera berbuat sesuatu buat Nathan". "Aku nggak percaya ! Aku ini dari keturunan yang bersih, tidak mungkin anakku menderita penyakit itu !" sahut Heykal semakin meninggi. Mazaya mencoba menenangkan rasa frustasi suaminya.
"Autis bukan penyakit keturunan Mas. Menurut Dokter Farras, Autis bisa disembuhkan walau memakan waktu lama dan sangat membutuhkan kesabaran serta kasih sayang kita selaku orang tuanya." Ujar Mazaya sambil menggenggam jemari suaminya yang dingin.
"Mas, Nathan adalah anak kita. Terimalah kehadirannya sebagaimana dia adanya. Nathan apalagi kita memang tak menghendaki takdir ini. Tapi kita lah yang ditunjuk Tuhan untuk memberikan masa depan terbaik buatnya."
Heykal hanya terdiam kaku. Entah hormon apa yang tengah bekerja ditubuhnya saat ini. Yang jelas ia seolah ingin lari dari kenyataan yang ada. Ingin mengingkari nasib yang kini menjadi bagian dari hidupnya. Malah dihatinya terbit kebencian tak beralasan pada Mazaya.
Waktupun berlalu. Kini seluruh hidup Mazaya hanya tertumpah untuk Nathan. Karirnya sebagai Account Executive di sebuah perusahaan asing, ditinggalkannya. Kegiatan Mazaya hanya berkutat pada pengobatan dan terapi buat Nathan. Walaupun perkembangan berarti belum juga ditemuinya. Kini Nathan sudah berusia 2 tahun. Tapi ia belum lagi bisa berucap kata-kata dengan artikulasi yang jelas dan bermakna. Kalau anak normal sudah bisa berlari. Nathan baru bisa berjalan dengan merambat ke dinding. Namun Mazaya adalah Ibu yang kuat dan tabah. Ia tetap tersenyum saat kontak mata dengan buah hatinya begitu sulit didapat. Bahkan kelelahan mengurus Nathan dipagi hari tak dirasakannya saat Nathan mengalami insomnia dimalam harinya. Ia tetap menemani Nathan sambil berusaha melakukan interaksi dengan berbagai permainan yang dapat menarik perhatian agar Nathan tidak terus terjerat dalam dunia autisnya.
Sementara Mazaya tenggelam dalam kesibukannya merajut dunia yang seharusnya untuk Nathan. Lain halnya dengan Haykel. Ia sama sekali tak peduli dengan keadaan anaknya. Dulu ia tak pernah pulang lewat jam tujuh malam tapi sekarang, Haykel lebih sering menghabiskan waktunya diluar bersama teman-temannya. Ia memang tidak setegar Mazaya. Terlahir ditengah keluarga bangsawan yang serba berkecukupan membuatnya begitu rapuh dan malu menerima kenyataan yang ada pada Nathan. Tapi Tuhan akan selalu mengirimkan Ibu terbaik pilihanNya pada setiap anak dengan takdir seperti Nathan dan ia akan senantiasa memiliki semangat dan energi berlebih untuk membawanya keluar dari dunia yang melingkupinya saat ini. Dunia dimana hanya ada satu warna, satu bentuk, satu arti dan sulit dimengerti. Dan Mazaya tanpa lelah melobby Tuhan lewat usaha serta doanya dalam menarik buah hatinya dari dunia muram itu.
Mazaya terbelakak tak percaya melihat resep suplemen dan vitamin yang diberikan Dokter Farras. "Sebanyak ini Dok ? Apa bisa Nathan menelan kapsul sebanyak ini dalam sehari ?" "Harus. Kapsul-kapsul itu adalah suplemen dan vitamin untuk membantu tumbuh kembangnya yang lambat". Mazaya menghela nafas berat. Balita sekecil itu sudah diharus kan akrab dengan segala macam bentuk penyembuhan yang terkadang membuatnya tak nyaman.
Terapi dan pengobatan yang dijalani Nathan saat ini sudah merupakan siksaan batin tersendiri buat Mazaya. Kini, ia diharuskan tega untuk memberi kapsul-kapsul suplemen dan vitamin ke mulut kecilnya setiap hari!. Mazaya menghampiri Haykel yang tengah asyik menonton TV.
"Mas, tadi Dokter Farras meresepkan suplemen-suplemen ini untuk Nathan. Ada 25 kapsul yang harus ditelannya setiap hari." Suara Mazaya merendah demi melihat air muka suaminya yang dingin tanpa reaksi, sementara tatapannya sama sekali tak beranjak dari acara "Candid Camera".
"Mas, bantu aku yah� Nathan pasti mengamuk kalau dia tahu harus menelan kapsul sebanyak ini". "Ah ! minta tolong suster dan Mbok Ipah saja. Masa tiga orang tidak cukup. Memangnya dia Hulk" Sahutnya kasar seraya membanting remote control digenggamannya. Mendengar itu amarah Mazaya langsung memuncak. Kesabarannya habis sudah demi melihat tingkah suaminya yang sudah mati rasa dan tak berhati lagi. Pluk! Asbak rokok seberat 1 kg pun mendarat di kening Haykel.
Haykel berdiri dengan amarah yang tak kalah dahsyatnya. Diraihnya tubuh ringkih Mazaya lalu dilemparnya dengan kasar hingga membentur dinding. "Perempuan kotor ! Itu salahmu dan tanggung jawabmu hingga punya anak idiot seperti itu !" umpatnya kasar. Mazaya ingin membalas tapi segera di relai Mbok Ipah.
"Nathan Bu, ingat Nathan" Bujuk wanita tua itu gemetar. "Selama kamu tak bisa menerima keadaan Nathan, lebih baik tinggalkan saja kami" Ujar Mazaya seraya berlalu dengan mata sembab.
Dan keinginan Mazaya ternyata ditanggapi sangat serius oleh Haykel. Surat ceraipun tiba satu bulan setelah kejadian itu. Tak ada pihak yang dapat mendamaikan mereka lagi. Haykel bagai tengah kerasukan setan dari neraka paling dasar, sementara Mazaya tak punya ruang lagi di batinnya untuk kedukaan lain. Nathan, hanya manusia kecil itu yang ada dibenaknya serta serentetan usaha penyelamatan buatnya. Beruntung keluarga Haykel masih mau berbelas kasihan pada Mazaya dan Nathan. Biaya hidup dan pengobatan Nathan sepenuhnya ditanggung oleh Ayah Haykel. Bahkan rumah yang selama ini mereka tempati dihibahkan untuk Mazaya, hanya mobil yang biasa dipakai Nathan untuk berobat dan terapi tak ada lagi, Haykel dengan tega telah menjualnya. Sehingga Mazaya harus berhemat dengan biaya yang ada, karena taxi adalah pilihan kendaraan paling nyaman buat Nathan saat ini. Bahkan dengan berat hati ia pun harus mem PHK Suster Anis karena keterbatasan dana. Kini, hanya sisa Mbok Ipah dengan segala kekurangannya sebagai pengasuh usia setengah abad. "Kita adalah orang tua pilihan Tuhan. Karena kita memiliki nilai lebih di mataNya dibanding orang tua lain pada umumnya. Sehingga ada Nathan dan Qiandra di kehidupan kita" Ujar Linda saat Mazaya berkunjung kerumahnya dan berkeluh kesah tentang nasibnya. "Kamu beruntung Lin. Ayah Qiandra begitu bertanggung jawab dan bisa menerima keadaan anaknya dengan berbesar hati".
"Sudahlah Mazaya, pasti ada hikmah dibalik semua ini. Toh Nathan juga masih beruntung memiliki Opa dan Oma yang begitu mengasihinya dari pihakmu dan Haykel". "Mengapa aku harus menikah dengannya" tangis Mazaya menyesali. Linda memeluk tubuh karibnya yang terguncang tangis. "Jangan pernah menyesali yang telah lalu. Ada Nathan dihadapanmu. Pada suatu saat nanti, dialah yang akan memberi makna paling berarti dikehidupanmu. Usahamu untuk penyembuhan Nathan melebih apa yang sudah aku lakukan buat Qiandra. Lihat saja, dia sudah menunjukkan kemajuan yang berarti khan?" Bujuk Linda lembut. Mazaya mencoba menerima segala masukan dan nasehat dari orang -orang yang bersimpati padanya. Yah, memang hanya Nathan satu -satunya sinar hidup yang masih menyala terang dijiwanya. Mazaya yakin, kelak sinar itu pula yang akan membawanya keluar dari kegelapan yang melingkupi hidup mereka saat ini.
Lima tahun pun berlalu. Usia Nathan genap enam tahun, secara klinis kini ia tak lagi menunjukkan ciri-ciri autis, hanya saja cara ia berkomunikasi masih sering memiringkan kepalanya. Tapi kemajuan pesat menuju normal telah dimiliki Nathan. Ia kini sudah bisa bersepeda roda dua. Meniup sendiri balon-balon ulang tahunnya. Padahal saat ia berusia dua tahun, butuh enam bulan lamanya berlatih, baru mulut kecil itu bisa melakukan gerakan meniup. Namun apapun perubahan yang terjadi pada diri Nathan adalah mukjizat terindah yang sangat disyukuri Ibunya.
Kehidupan Mazaya pun merambat naik. Saat Nathan mulai bisa mandiri. Secara perlahan ia pun kembali memasuki kehidupannya yang pernah dilepaskan demi membentuk masa depan bagi buah hatinya. Mazaya kembali bekerja meskipun harus merambah dari dasar. Hingga akhirnya tak ada ketergantungan materi dengan siapapun. Kini ia telah mampu bernafas lega setelah selama lima tahun seolah bernafas dalam lumpur. Mazaya menggenggam erat jemari Nathan. Wajah mungil yang mewarisi ketampanan Heykal dan garis-garis ketegaran wajah Ibunya itu terlihat tegang. Hari ini adalah final "Lomba Baca Puisi Tingkat Nasional" yang diikutinya.
"Nathan khan tadi sudah berdoa dan minta sama Tuhan untuk dikasih kemenangan. Jadi, harus yakin bisa menang. Yang penting bacanya nanti yang bagus ya sayang" Sahutnya memberi semangat. Namun tak urung dada Ibu muda itu terasa sesak, ia takut Nathan kalah dan kecewa karena ia bertanding dengan 7 anak normal lainnya yang terseleksi masuk babak final hari ini. Tapi dari kesemua peserta, hanya Nathan lah yang beriwayat autis.
Mama, Aku memang terlahir beda Kataku sulit dicerna Wajahku tak bersinar ceria Aku hidup didunia tanpa warna..
Mama, Ada jemarimu menyaput warna diduniaku Ada senyummu memberi bentuk di abstraknya hidupku Ada senandungmu di senyapnya malamku.
Mama, Kini duniaku tak lagi gulita Doa mu melebihi mukjizat yang pernah ada Kini aku hidup seperti mereka, dapat tertawa, bercanda dan berkarya
Terima kasih Mama, Telah merajut rapi benang-benang masa depanku Walau kutahu betapa banyak duka, derita dan air mata telah tertumpah Peluk, cium serta sujudku, hanya untukmu yang selalu tercinta�.
Air mata Mazaya menetes deras, ada letupan-letupan bahagia yang begitu dahysat didadanya. Tepuk tangan riuh terdengar dari seluruh penjuru gedung. Semua juri berdiri memberi penghargaan, mungkin karena mereka tahu Nathan adalah penyandang autis yang berhasil menyamai kepintaran anak normal. Bahkan Mazaya hampir tak percaya pada kalimat-kalimat puisi yang begitu jelas diucapkannya. Secara subyektif, Mazaya yakin anaknya lah yang paling bagus dalam hal penampilan dan pembacaan puisi.
Ternyata apa yang diduga Mazaya benar. Pengumuman pemenangpun dibacakan dan� Juara pertama diraih oleh Muhammad Nathan Ibrahim.
Ibu muda itu serta merta memeluk tubuh Nathan yang tiba-tiba terasa dingin. Senyum ceria terpencar diwajah mungilnya. Senyum yang begitu lama diperjuangkan olehnya.
"Mama, itu kan namaku" ujarnya lugu
"Ia Nak, kamu pemenangnya !
Dengan langkah mantap. Nathan pun melangkah menuju panggung penghargaan. Sama sekali tak terlihat ciri-ciri autis pada dirinya. Mazaya memang telah berhasil membawa buah hatinya keluar dari dunia yang tak pernah di harapkan oleh Ibu manapun di jagat ini. Selama lima tahun berjuang, akhirnya Mazaya berhasil mempersembahkan sebuah dunia bagi Nathan. Dunia yang sebenarnya, dimana ia akan mendapatkan banyak pilihan dalam bercita-cita.
Berita kemenangan Nathan yang diliput beberapa media massa, akhirnya sampai juga pada Haykel. Ada yang tercabik-cabik dihatinya. Haru, sesal dan berjuta perasaan berkecamuk dibatinnya. Nathan terlihat begitu gagah dengan piala ditangannya.
Senyumnya mengembang ceria meliputi kesempurnaan wajah tampannya. Ingin rasanya ia berlari memeluk 'pria kecil'nya yang pernah dicampakkan dan dianggap tak berguna. Sayangnya Haykel tak pernah mengetahui kekuatan yang dimiliki Mazaya. Ia tak pernah menyadari, begitu banyak mukjizat terlimpah dan tercipta untuk seorang Ibu seperti Mazaya.
Ada keinginan dihatinya untuk kembali memasuki kehidupannya yang dulu. Tapi lima tahun bukanlah waktu yang singkat untuk suatu perubahan. Hidup Haykel kini telah diramaikan oleh Natasha dan Mandira - bayi perempuan mungil berusia satu tahun yang terdiagnosa tuna rungu sejak lahir. Karma Tuhan memang selalu nyata. Dulu Haykel pernah menolak kehadiran Nathan, tapi kemudian takdir kembali mempertemukannya dengan Mandira yang menuntut tanggung jawab dan perhatiannya sebagai orang tua. Ia pun akhirnya tersadar setiap anak adalah kado terindah dari Tuhan, hanya terkadang mereka datang dengan sampul yang berbeda. Adakalanya hadir dengan motif indah menawan Namun tak jarang terbungkus dalam sampul buram tanpa warna.
Tapi apapun bentuknya mereka tidak hadir begitu saja apalagi diluar rencana atau ketidak sengajaan. Keberadaannya, selalu membawa pesan atau pembelajaran tersendiri bagi orang dewasa. Alangkah bahagianya jika seorang anak diberitahu bahwa alasan mereka dilahirkan adalah karena ada rencana besar Tuhan dan kedua orang tua mereka yang selalu mempersiapkan sebentuk masa depan indah dan kasih sayang berlimpah.
Seorang teman ku yang tinggal di sebuah daerah di jawa tengah, sebut saja Fulan. Ia baru saja membeli mobil baru . Dengan Mobil baru itu, Fulan memacu kendaraannya mengelilingi jalanan tetangga sekitar dengan penuh rasa bangga. Di pinggir jalan, tampak beberapa anak yang sedang bermain sambil melempar sesuatu. Namun, karena berjalan terlalu kencang, Fulan tidak memperhatikan anak-anak itu.
Tiba-tiba dia melihat seorang anak kecil yang melintas dari arah mobil-mobil yang parkir di pinggir jalan. "Buk...!! "Ternyata, ada sebuah batu seukuran kepalan tangan yang dilempar si anak mengenai Mobil baru itu . Sisi pintu mobil itu pun lecet, tergores batu yang dilemparkan sang anak.
""Ciiitt..." ditekannya rem mobil kuat-kuat. Dengan geram, dimundurkannya mobil itu menuju tempat arah batu itu dilemparkan. Mobil baru yang tergores, bukanlah perkara sepele. Apalagi kecelakaan itu dilakukan oleh orang lain. Amarah memuncak. Dia pun keluar mobil dengan tergesa-gesa. Ditariknya anak yang dia tau telah melempar batu ke mobilnya dan dipojokkannya anak itu pada sebuah mobil yang diparkir.
"Apa yang telah kamu lakukan? Lihat perbuatanmu pada mobil kesayanganku! Liat goresan itu!" teriak Fulan sambil menunjuk goresan di sisi pintu. "Kamu tentu paham, mobil baruku ini akan butuh banyak biaya untuk memperbaikinya." ujarnya lagi dengan kesal dan geram, tampak ingin memukul sang anak.
Si anak tampak menggigil ketakutan dan pucat. Dia berusaha meminta maaf. "Maaf, Pak. Maaf, saya benar-benar minta maaf. Sebab saya tidak tahu lagi harus bagaimana. Maaf, pak. Saya melemparkan batu itu karena tidak ada seseorang pun yang mau berhenti." Air mukanya tampak ngeri dan tangannya bermohon ampun.
Dengan air mata yang mulai berjatuhan di pipi dan leher, anak tadi menunjuk ke suatu arah, di dekat mobil-mobil parkir tadi. "Di sana ada kakak saya yang lumpuh. Dia tergelincir dan terjatuh dari kursi roda. Saya tak kuat mengangkatnya, dia terlalu berat, dan tak seorang pun yang mau menolong. Badannya tak mampu saya papah dan sekarang dia sedang kesakitan." Dipandanginya pengusaha tadi. Matanya berharap pada wajah yang mulai tercenung itu. "Maukah Bapk membantu saya mengangkat kakak saya ke kursi roda? Tolong, Pak!"
Pengusaha tak mampu berkata-kata lagi. Amarahnya sedikit reda setelah dia melihat seorang laki-laki yang tergeletak sedang mengerang kesakitan. Kerongkongannya tercekat. Ia hanya mampu menelan ludah. Segera dia berjalan menuju laki-laki tersebut, diangkatnya si cacat itu menuju kursi rodanya. Diambilnya sapu tangan mahal miliknya untuk mengusap luka di lutut yang memar dan tergores sepeti sisi pintu Mobil baru kesayangannya.
Setelah beberapa saat, kedua anak itu pun berterima kasih. "Terima kasih, Pak. Semoga Allah membalas kebaikan, Bapak." Keduanya berjalan beriringan meninggalkan Fulan yang masih nanar menatap kepergian mereka. Matanya terus mengikuti langkah sang anak yang mendorong kursi roda itu, melintasi sisi jalan menuju rumah mereka.
Seperti kendaraan, hidup akan terus melaju dari waktu ke waktu. Dan kita adalah pengusaha muda tadi. Kita fokus dengan apa yang kita kejar. Kita menikmati hasil usaha kita sendiri. Kita bahagia sendirian. Kita pacu kendaraan kita dengan cepat. Kita injak pedal hidup kita dengan mantap untuk meraih tujuan di depan kita secepatnya. Hingga tak jarang kita lupa sekeliling kita.
Sudah terlalu banyak orang-orang egois di negeri kita. Sudah terlalu banyak orang-orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Sudah terlalu banyak orang yang memperjuangkan kepentingan diri sendiri. Maka, jangalah kita menambah jumlah mereka. "Strongman stand for his life but the stronger stand for others"
Berjalanlah lebih lambat. Siapa tahu ada orang yang membutuhkan pertolongan kita. Siapa tahu ada orang yang hendak memberikan kebaikan kepada kita. Siapa tahu kita menemukan sesuatu yang berharga untuk kita bawa ke hadapan Allah"
Thanks my brother atas kisahmu ……. Semoga kau menjadi pengusaha muslim yang peka akan sekelilingmu ……….
Sumber : cerita seorang sahabat dari jawa tengah……
Kalo menurut wikipedia -->Gadget (Bahasa Indonesia: acang) adalah suatu istilah yang berasal dari bahasa Inggris untuk merujuk pada suatu peranti atau instrumen yang memiliki tujuan dan fungsi praktis spesifik yang berguna yang umumnya diberikan terhadap sesuatu yang baru.
Ceritanya sudah 8 tahunan diriku belum pernah ganti HP, jd kesimpulannya HP yg aku gunakan masih jadul sebenarnya aku tidak malu kalau HP-ku ini masih bs digunakan dengan baik, karena bagiku yang penting dalam HP adalah bisa untuk telpon, sms dan ada pulsanya tapi masalahnya HP ini sepertinya sudah harus pensiun secara sudah beberapa kali ganti baterry n cepet rusak baterrynya. Akhirnya dengan berat hati aku musiumkan HP pertamaku, beralihlah ke HP jadul ke-2 milik misuaku. Hampir 8 bulan aku menggunakannya dan selama penggunaannya ada saja ketidak nyamanan karena tidak terbiasa. Dan pada suatu hari chargernya mau putus kabelnya, dan susah sekali kalau untuk merecharge HP, kadang ada aliran listriknya kadang tidak, yaa karena kabel yang mau putus itu. Akhirnya misuaku mengakali agar masih bisa digunakan, tapi hari ini sepertinya charger HP itu sudah harus pensiun jg karena kabelnya sudah tidak bisa diakali lagi.
Sebenarnya sudah jauh2 hari aku mempunyai niat untuk membeli HP baru, tetapi aku urungkan karena aku pikir saat itu masih ada HP yang masih bisa dipakai, dan ada keperluan lain yang lebih membutuhkan biaya dibanding HP.
Googling juga sudah sering aku lakukan untuk mencari HP yang tidak mahal karena sekali lagi bagiku tidak terlalu penting untuk HP kecuali 3 hal tadi, bs u telpon, sms dan ada pulsanya
Ada juga siii keinginan untuk punya BB alias blackberry, tapi...karena aku seorang yang awam masalah BB aau seorang yg new bie aku tidak tau kalau BB itu ada abodemennya akhirnya googling deh untuk tau lebih banyak tentang BB dan nemu deh artikel menarik tentang BB antara lain : 1 catatannya pak benny dan 2. celemotan dari dua artikel itu sedikit banyak punya gambaran deh apa itu BB.
Tapi..setelah baca 2 artikel itu aku harus menarik nafas panjang, karena ternyata punya BB itu menurutku tidak enak dan tidak terlalu penting u aku, karena untuk koneksi ke internet aku masih bisa menggunakan fasilitas kantor atau bs dr rumah dgn telkomnet instant dan aku bukan orang yang begitu mobile. Punya BB harus punya uang banyak karena selain harus bayar abodemen jg hrs menyiapkan uang u pulsa. Iya kalau abodemennya kecil, menurutku abodemennya saja tidak ada yang murah rata2 operator di atas 100rb wuihhhh kalau gaji aku 10jt mungkin ga apa2 yaaa mengeluarkan uang segitu tiap bulan
Kalau dipikir-pikir orang-orang indoensia itu kaya-kaya yaa buktinya tidak sedikit yang punya BB dan bahkan tiap tahun terus meningkat. Kadang ironis karena seiring bertambahnya orang yang pake dan punya BB banyak pula orang yang jatuh miskin atau masih miskin. Padahal jika tiap orang yang punya BB menyumbangkan uang mereka setengah dari abodemen yg harus dibayarkan u BB u orang yang membutuhkan, aku ngebayangin pasti negeri ini barokah. Tapi sayang yaa semua itu mungkin merupakan bayanganku saja
Yaa dari pada kuciwo mending mulai dari dirku sendiri deh....setidaknya awal bulan kenaikan gaji aku berikan untuk yang berhak dan membutuhkan. Mudah2an jadi barokah u aku dan keluargaku. Amin.
Nah terus bagaimana dengan HP baruku? insyaAllah kalau rizki mah tidak akan kemana, mudah2an besok bisa beli HP baru meski cuma LG GW300 hasil jual doorprice mesin cuci alhamdulillah....
Si ganteng sholehku dah berusia kurang lebih 2,5 tahun....aku sbg ortunya sudah mulai memikirkan kapan waktu yang tepat menyekolahkan anak? secara ortu2 yang lain sudah sibuk mencari sekolah untuk anak mereka saat anak mereka sudah menginjak usia 2-3 tahun.
Kalau mau bicara pk perasaan sii jujur...aku blm tega memasukkan anakku ke dunia pendidikan yang formal yang nantinya diusia sekecil itu dia harus berhadapan dengan aturan2 yang sedikit banyak mengekang rasa kekanak2annya yang pastinya baginya/menurutnya hidup dan segala aktifitas adalah bermain. Ditambah kurikulum yang banyak diterapkan disekolah-sekolah skrg adalah kurikulum yg mencekoki segala ilmu yang mungkin saja kurang diperlukan di dalam hidupnya kelak . Apalagi tuntutan untuk segera bisa ini dan itu di usia dini sementara kemampuan anak berbeda-beda.
Tetapi ada rasa takut juga kalau tidak dimasukkan sekolah segera ...takut dia nti tertinggal dengan teman2 seusianya ...takut kl sosialisasinya kurang ...takut jg kl dipaksakan sekolah dia jd tertekan dst dsb. Belum lagi pemilihan sekolah, jauh dekatnya, kurikulumnya, gugur2nya dst dsb
Setiap anak punya keunikan tersendiri seperti juga anakku... sampai seusia itu untuk toilet trainingnya masih belum disiplin (jd kalau mau pup atau pi2s kadang bilang kadang dah keluar baru bilang) nti gimana kalau disekolah dia ingin pup atau pi2s..sementara aku jg ga bs nungguin dia selama sekolah, dan ga yakin jg kalau pengasuhnya mau nungguin anaku selama sekolah.
Belum lagi fisiknya yang kt orang Jawa "ringkih" alias gampang sakit... gimana nti kl sekolah..yang pastinya kegiatannya lebih banyak...
Akhirnya googling dehh dan nemu beberpa artikel yang membantu aku mengambil keputusan untuk sampai saat ini menunda dulu sekolahnya sampai tahun depan mudah2an bukan keputusan yang salah http://nengrayya.multiply.com/reviews/item/12 http://indrariawan.wordpress.com/2007/07/09/kapan-saat-yang-tepat-untuk-mulai-preschool/ http://www.beritaterkinionline.com/2010/04/memilih-sekolah-yang-tepat-untuk-si-kecil.html http://lafamilledewijaya.blogspot.com/2010/03/hasil-chatting-dan-sharing-memilih.html
Dari temen, di copy paste saja, kecuali fotonya :)
Sebagian wanita menganggap tugas wanita lebih sebagai manajer dirumahnya tanpa perlu dipusingkan urusan dapur dan merawat anak yang lebih pantas dilakukan oleh para bawahan, alias pembantu ataupun baby-sitter. Peran sosial dan aktualisasi diri menjadi lebih utama. Di sisi lain, tidak sedikit akhwat yang tetap "teguh" dan bangga dengan kesibukan seputar urusan dapur dan diaper ini. Mereka cukup puas dengan imbalan surga untuk jerih payahnya membenamkan muka di asap "sauna" mazola (minyak goreng) dan berparfumkan aroma popok bayi.
Saya tidak hendak membahas kekurangan dan kelebihan kedua sisi ini. Seperti saya tulis di muka. Saya hanya ingin bertutur tentang seorang sahabat saya.
Sebut saja Rani namanya.
Semasa kuliah ia tergolong berotak cemerlang dan memiliki idealisme yang tinggi. Sejak awal, sikap dan konsep dirinya sudah jelas : meraih yang terbaik, baik itu dalam bidang akademis maupun bidang profesi yang akan digelutinya. Ketika Universitas mengirim kami untuk mempelajari Hukum Internasional di University Utrecht, di negerinya bunga tulip, beruntung Rani terus melangkah. Sementara saya, lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran dan berpisah dengan seluk beluk hukum dan perundangan.
Beruntung pula, Rani mendapat pendamping yang "setara " dengan dirinya, sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.
Alifya, buah cinta mereka lahir ketika Rani baru saja diangkat sebagai Staf Diplomat bertepatan dengan tuntasnya suami Rani meraih PhD. Ketika Alif, panggilan untuk puteranya itu berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila saja. Frekuensi terbang dari satu kota ke kota lain dan dari satu negara ke negara lain makin meninggi.
Saya pernah bertanya , " Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal ?"
Dengan sigap Rani menjawab : " Saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya.
Everything is ok." Dan itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya walaupun lebih banyak dilimpahkan ke baby sitter betul-betul mengagumkan. Alif tumbuh menjadi anak yang lincah, cerdas dan pengertian. Kakek neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu tentang ibu-bapaknya.
" Contohlah ayah-bunda Alif kalau Alif besar nanti." Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani bertutur disela-sela dongeng menjelang tidurnya. Tidak salah memang. Siapa yang tidak ingin memiliki anak atau cucu yang berhasil dalam bidang akademis dan pekerjaannya. Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau Alif minta adik. Waktu itu Ia dan suaminya menjelaskan dengan penuh kasih-sayang bahwa kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini "dapat memahami" orang tuanya.
Mengagumkan memang. Alif bukan tipe anak yang suka merengek. Kalau kedua orang tuanya pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Kisah Rani, Alif selalu menyambutnya dengan penuh kebahagiaan. Rani bahkan menyebutnya malaikat kecil. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orang tua sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam hati kecil saya menginginkan anak seperti Alif.
Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby-sitternya. " Alif ingin bunda mandikan." Ujarnya. Karuan saja Rani yang dari detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, menjadi gusar. Tak urung suaminya turut membujuk agar Alif mau mandi dengan tante Mien, baby-sitternya. Persitiwa ini berulang sampai hampir sepekan," Bunda, mandikan Alif?" begitu setiap pagi. Rani dan suaminya berpikir, mungkin karena Alif sedang dalam masa peralihan ke masa sekolah jadinya agak minta perhatian.
Suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. " Bu dokter, Alif deman dan kejang-kejang, Sekarang di Emergency". Setelah terbang saya pun ngebut ke UGD. But it was too late. Allah sudah punya rencana lain. Alif, si Malaikan kecil keburu dipanggil pemiliknya.
Rani, bundanya tercinta, yang ketika diberi tahu sedang meresmikan kantor barunya,shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan anaknya. Dan itu memang ia lakukan, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku. " Ini bunda, Lif. Bunda mandikan Alif." Ucapnya lirih, namun teramat pedih.
Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu berkata,
" Ini sudah takdir, iya kan ? Aku disebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, dia pergi juga kan ? ". Saya diam saja mendengarkan.
" Ini konsekuensi dari sebuah pilihan." lanjutnya lagi, tetap tegar dan kuat.
Hening sejenak. Angin senja berbaur aroma kamboja. Tiba-tiba Rani tertunduk. " Aku ibunya !" serunya kemudian, " Bangunlah Lif. Bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan bunda sekali lagi saja, Lif". Rintihan itu begitu menyayat. Detik berikutnya ia bersimpuh sambil mengais-ngais tanah merah ?..
Sekali lagi, saya tidak ingin membahas perbedaan sudut pandang pembagian tugas suami isteri. Hanya saja, sekiranya si kecil kita juga bergelayut : "Mandikan aku, Bunda ." Akankah kita menolak ? Ataukah menunggu sampai terlambat ?
Untuk mengobati rasa rinduku aku panjatkan doa rabithah ini mdh2an bs senantiasa membuat hati2 kami sll dekat walau jauh di mata :)
"Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta padaMu, telah berjumpa dalam taat padaMu, telah bersatu dalam dakwah padaMu, telah berpadu dalam membela syari’atMu.
Kukuhkanlah, ya Allah, ikatannya. Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan nur cahayaMu yang tiada pernah pudar. Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepadaMu dan keindahan bertawakkal kepadaMu. Nyalakanlah hati kami dengan berma’rifat padaMu. Matikanlah kami dalam syahid di jalanMu. Sesungguhnya
Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Ya Allah.
Amin. Sampaikanlah kesejahteraan, ya Allah, pada junjungan kami,
Muhammad, keluarga dan sahabat-sahabatnya dan limpahkanlah kepada
mereka keselamatan."
Saya mewakili sepupu saya Ani Purwaningsih, Ibu dari Abdullah Ichsanul Fikri yang menderita atresia billier atau tidak terbentuknya saluran empudu, ingin mengetuk hati sahabat semua yang ingin menyalurkan dana guna kesembuhan Abdullah Ichasanul Fikri yang kondisinya sudah semakin parah untuk segera melakukan prosedur kasai (tindakan medis sebelum dilakukan cangkok hati). Karena selain perutnya yang sudah membesar kelaminnya juga sudah membesar.
Abdullah Ichsanul Fikri senasib dengan Bilqis, sahabat semua tentu sudah sering melihatnya di layar kaca tentang Bilqis.
Untuk menyalurkan dana sahabat semua dapat melalui rekening BCA nomor rekening 7015038284 atas nama Ngabdu Salam BCA KCP City Resort “Posko bantuan pengobatannya beralamat di rumah kontrakannya di Jalan Raya Duri Kosambi 114 Cengkareng Jakarta Barat,” atau menguhubungi orang tua dari Fikri di No telp 081584647234.
Dukung melalui facebook di alamat http://www.facebook.com/pages/Cengkareng-Jakarta-Barat/Dukung-Fikri-Untuk-Sembuh/299807631640?v=wall atau http://www.facebook.com/pages/Purwokerto-Indonesia/Dukung-Fikri-Untuk-Sembuh/299807631640
Sebelum dan sesudahnya kami atas nama keluarga Fikri sangat berterima kasih, mudah-mudah Allah Yang Maha Penyembuh segera menyembuhkan Fikri dan membalas segala kebaikan dan amal sholeh sahabat semua. Amin.
Kehidupan pernikahan kami
awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi
konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.
Kami tidak pernah bertengkar hebat,
kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru
pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat
sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.
Dia menciumku maksimal 2x sehari,
pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun.
Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak
romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang.
Kami jarang ngobrol sampai malam,
kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak
pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok
garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu
dengan sendok garpu.
Kalau hari libur, dia lebih sering
hanya tiduran dikamar, atau main dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa
lepas. Karena dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa
lepas.
Aku mengira rumah tangga kami baik2
saja selama 8 tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika, disuatu hari yang
terik, saat itu suamiku tergolek sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan
sering jajan di kantornya, dibanding makan dirumah, dia kena typhoid, dan harus
dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih
di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama
meisha, temannya Mario saat dulu kuliah.
Meisha tidak secantik aku, dia
begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti
yang dia miliki. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta,
ketika dia berbicara, seakan2 waktu berhenti berputar dan terpana dengan
kalimat2nya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang, laki2 maupun perempuan
bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia
bercerita.
Meisha tidak pernah kenal dekat
dengan Mario selama mereka kuliah dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam,
sehingga jarang punya teman yang akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada
pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di
advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk
perusahaan tempatnya bekerja.
Aku mulai mengingat2 5 bulan lalu
ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia
tersenyum manis padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia
membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi disaat lain,
dia sering termenung didepan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau
aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.
Suatu saat Meisha pernah datang
pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi
beserta lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi.
Meisha masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya,
"
Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini ? tidak mau makan
juga? uhh… dasar anak nakal, sini piringnya, " lalu dia terus mengajak Mario
bercerita sambil menyuapi Mario, tiba2 saja sepiring nasi itu sudah habis
ditangannya. Dan….aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar
dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui
bersamanya, tidak pernah sedetikpun !
Hatiku terasa sakit, lebih sakit
dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan
berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar
ketika aku melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau
memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada sakit
ketika dia tidak pulang kerumah saat ulang tahun perkawinan kami kemarin. Lebih
sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku.
Tapi aku tidak pernah bisa marah
setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu manis, dia bisa hadir tiba2,
membawakan donat buat anak2, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku
jalan2, kadang mengajakku nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2
anaknya yang lucu2.
Aku tidak pernah bertanya, apakah
suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu? karena tanpa bertanya pun aku
sudah tahu, apa yang bergejolak dihatinya.
Suatu sore, mendung begitu
menyelimuti
jakarta , aku tidak pernah menyangka, hatikupun
akan mendung, bahkan gerimis kemudian.
Anak sulungku, seorang anak
perempuan cantik berusia 7 tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama
seperti ayahnya. Dia berhasil membuka password email Papa nya, dan memanggilku,
" Mama, mau lihat
surat papa buat tante Meisha ?"
Aku tertegun memandangnya, dan
membaca surat
elektronik itu,
Dear Meisha,
Kehadiranmu bagai beribu bintang
gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh
cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang
mengharuskan aku mencintainya, karena dia ibu dari anak2ku.
Ketika aku menikahinya, aku tetap
tidak tahu apakah aku sungguh2 mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti
ketika aku memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika
aku tidak menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika
konflik2 terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak
sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk
mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku
menikahinya.
Aku tidak tahu, bagaimana caranya
menumbuhkan cinta untuknya, seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami,
seperti pohon2 beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari
pemiliknya. Seperti pepohonan di hutan2 belantara yang tidak pernah minta
disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku
rasakan.
Aku tidak akan pernah bisa
memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang lain dan aku adalah laki2 yang
sangat memegang komitmen pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu
tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa
mendapatkan segala yang dia inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan
seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku
berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap
bahwa engkau mengerti, you are the only one in my heart.
yours,
Mario
Mataku terasa panas. Jelita, anak
sulungku memelukku erat. Meskipun baru berusia 7 tahun, dia adalah malaikat
jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku.
Suamiku tidak pernah mencintaiku.
Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain.
Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak
itu, aku menulis
surat hampir setiap hari untuk suamiku.
Surat itu aku
simpan diamplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan
untuknya.
Mobil yang dia berikan untukku aku
kembalikan padanya. Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang
belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario
merasa heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan
bermacam2 merek tas dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu
memintanya menikahiku karena aku malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku
sudah menikah semua. Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi
istrinya.
Betapa tidak berharganya aku.
Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan
kasih sayang dari suaminya ? Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak
mencintai aku dan tidak menginginkan aku ? itu lebih aku hargai daripada dia
cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya
nasibku.
Mario terus menerus sakit2an, dan
aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus
didalam hatinya. Dengan pura2 tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan
mencintai perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku
akan selalu mencintainya.
**********
Setahun kemudian…
Meisha membuka amplop surat2 itu
dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu masih basah merah dan masih
dipenuhi bunga.
"
Mario, suamiku….
Aku tidak pernah menyangka pertemuan
kita saat aku pertama kali bekerja dikantormu, akan membawaku pada cinta
sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa
senangnya aku ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan
begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik
bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin, ketika kamu hanya
diam dan menuruti keinginanku… Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan
banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga
mau melakukan apa saja untukku…..
Ternyata aku keliru…. aku
menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah
jam tangan dari seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai
Mario.
Aku melihat matamu begitu terluka,
ketika berkata, " kenapa, Rima ? Kenapa kamu mesti cemburu ? dia sudah menikah,
dan aku sudah memilihmu menjadi istriku ?"
Aku tidak perduli,dan berlalu dari
hadapanmu dengan sombongnya.
Sekarang aku menyesal, memintamu
melamarku. Engkau tidak pernah bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam
kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau
inginkan.
Istrimu,
Rima"
Di
surat yang lain,
"………Kehadiran perempuan itu
membuatmu berubah, engkau tidak lagi sedingin es. Engkau mulai terasa hangat,
namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku,
seperti aku melihat cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu
saat memandang Meisha……"
Disurat yang kesekian,
"…….Aku bersumpah, akan membuatmu
jatuh cinta padaku.
Aku telah berubah, Mario. Engkau
lihat kan, aku tidak lagi marah2 padamu, aku tidak lagi suka membanting2 barang
dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang
engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalau menabung. Aku tidak lagi suka
bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang kerumah. Dan
aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang
ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku
suapi, aku menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu, dirumah sakit
saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu
bermasalah…….
Meskipun belum terbit juga, sinar
cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan
menantinya…….."
Meisha menghapus air mata yang
terus mengalir dari kedua mata indahnya… dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu
disampingnya.
Disurat terakhir, pagi ini…
"…………..Hari ini adalah hari ulang
tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang kerumah, tapi
tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan
yang paling enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya dirumah Bude Tati,
sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan
aku hanya mengendarai motor.
Saat aku tiba dirumah kemarin malam,
aku melihat sinar kekhawatiran dimatamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera
ganti baju supaya tidak sakit.
Tahukah engkau
suamiku,
Selama hampir 15 tahun aku
mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini
aku melihat sinar kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda2 cinta mulai
bersemi dihatimu ?………"
Jelita menatap Meisha, dan
bercerita,
"
Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat keceriaan
diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Aku tidak pernah
melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu, dia begitu
cantik. Meskipun dulu sering marah2 kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya.
Mama memarkir motornya diseberang jalan, Ketika mama menyeberang jalan, tiba2
mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi…… aku tidak sanggup
melihatnya terlontar, Tante….. aku melihatnya masih memandangku sebelum dia
tidak lagi bergerak……" Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini
masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa.
Meisha mengeluarkan selembar kertas
yang dia print tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan
tadinya aku ingin Rima membacanya.
Dear Meisha,
Selama setahun ini aku mulai
merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah2 dan selalu berusaha menyenangkan
hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku
sangat khawatir dan memeluknya. Tiba2 aku baru menyadari betapa beruntungnya aku
memiliki dia. Hatiku mulai bergetar…. Inikah tanda2 aku mulai mencintainya
?
Aku terus berusaha mencintainya
seperti yang engkau sarankan, Meisha. Dan besok aku akan memberikan surprise
untuknya, aku akan membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik
motor kemana-mana. Bukan karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan
jiwaku….
Meisha menatap Mario yang tampak
semakin ringkih, yang masih terduduk disamping nisan Rima. Diwajahnya tampak
duka yang dalam. Semuanya telah terjadi, Mario. Kadang kita baru menyadari
mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan
kita.
Jakarta , 7 Januari
2009 (dedicated to my
friend....may you rest in
peace...)
Ini adalah tulisan yang sangat indah. Bacalah dengan lambat, cernalah setiap kata dan nikmati lah Jangan tergesa. Ini adalah harta karun
Bagi yang beruntung masih mempunyai ibu, ini indah Bagi yang sudah tidak punya, ini lebih indah lagi Bagi para ibu, kamu akan mencintainya
Sang ibu muda, melangkahkan kakinya di jalan kehidupan. 'Apakah jalannya jauh?' tanyanya. Pemandunya menjawab: 'Ya, dan jalannya berat. Kamu akan jadi tua sebelum mencapai akhir perjalanan ini... Tapi akhirnya lebih bagus dari pada awalnya.'
Tetapi ibu muda itu sedang bahagia. Ia tidak percaya bahwa akan ada yang lebih baik Dari pada tahun-tahun ini. Karena itu dia main dengan anak-anaknya, mengumpulkan bunga-bunga untuk mereka Sepanjang jalan dan memandikan mereka di aliran sungai yang jernih... Mata hari bersinar atas mereka. Dan ibu muda itu berseru: 'Tak ada yang bisa lebih indah daripada ini.'
Lalu malam tiba bersama badai. Jalannya gelap, anak-anak gemetar ketakutan dan ketakutan. Ibu itu memeluk mereka dan menyelimuti mereka dengan mantolnya. Anak-anak itu berkata: 'Ibu, kami tidak takut, karena ibu ada dekat. Tak ada yang dapat menyakiti kami.'
Dan fajar menjelang. Ada bukit menjulang di depan mereka. Anak-anak memanjat dan menjadi lelah. Ibunya juga lelah. Tetapi ia terus berkata kepada anak-anaknya: 'Sabar sedikit lagi, kita hampir sampai.' Demikianlah anak-anak itu memanjat terus.
Saat sampai di puncak, mereka berkata :" Ibu, kami tak mungkin melakukannya tanpa Ibu"
Dan sang ibu, saat ia berbaring malam hari dan menatap bintang-bintang, berkata: 'Hari ini lebih baik dari pada yang lalu. Karena anak-anakku sudah belajar daya tahan Menghadapi beban hidup. Kemarin malam aku memberi mereka keberanian. Hari ini saya Memberi mereka kekuatan.'
Keesokan harinya, ada awan aneh yang menggelapkan bumi. Awan perang, kebencian dan kejahatan. Anak-anak itu meraba-raba dan tersandung-sandung dalam gelap. Ibunya berkata: 'Lihat keatas. Arahkan matamu kepada sinar.' Anak-anak menengadah dan melihat diatas awan-awan ada kemuliaan abadi
Yang menuntun mereka melalui kegelapan Dan malam harinya ibu itu berkata: 'Ini hari yang terbaik. Karena saya sudah memperlihatkan Allah kepada anak-anakku.
Hari berganti minggu, bulan, dan tahun. Ibu itu menjadi tua, dia kecil dan bungkuk.
Tetapi anak-anaknya tinggi dan kuat dan berjalan dengan gagah berani. Saat jalannya sulit, mereka membopongnya; karena ia seringan bulu. Akhirnya mereka sampai ke sebuah bukit. Dan di kejauhan mereka melihat Sebuah jalan yang bersinar dan pintu gerbang emas terbuka lebar. Ibu berkata: 'Saya sudah sampai pada akhir perjalananku. Dan sekarang saya tahu, akhir ini lebih baik dari pada awalnya. Karena anak-anakku dapat berjalan sendiri dan anak-anak mereka ada di belakang mereka.'
Dan anak-anaknya menjawab: "Ibu selalu akan berjalan bersama kami... Meski ibu sudah pergi melewati pintu gerbang itu.' Mereka berdiri, melihat ibu mereka berjalan sendiri... dan pintu gerbang itu menutup sesudah ia lewat. Dan mereka berkata: "Kita tak dapat melihat ibu lagi. Tetapi dia masih bersama kita. Ibu seperti ibu kita, lebih dari sekedar kenangan. Ia senantiasa hadir dan hidup.
Ibumu selalu bersamamu…. Ia adalah bisikan daun saat kau berjalan di jalan Ia adalah bau pengharum di kaus kakimu yang baru dicuci Dialah tangan sejuk di keningmu saat engkau sakit. Ibumu hidup dalam tawa candamu. Ia terkristal dalam tiap tetes air mata. Dia lah tempat engkau datang, dia rumah pertamamu. Dia adalah peta yang kau ikuti pada tiap langkahmu. Ia adalah cinta pertama dan patah hati pertamamu. Tak ada di dunia yang dapat memisahkan kalian. Tidak waktu, ruang, bahkan tidak juga kematian!
Teruskan pada semua ibu dan anak-anak yang kau kenal. Semoga kita tidak pernah mengandaikan begitu saja ibu kita… Teruskan juga pada para laki-laki…. Karena mereka juga punya ibu.